• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Wirga Wirgunatha

Carpe Diem

Bisakah dalam sehari kita tidak melakukan apapun, hanya diam sambil menikmati segelas teh. Tidak ada pekerjaan, tidak ada bermain, tidak ada disibukkan dengan keluarga, tidak ada tidur, makan, bersosial media, atau yang lainnya. hanya diam sambal menikmati segelas teh.

Satu hari berjalan begitu cepat, dimulai kita harus bangun pagi hingga terlelap malam harinya. Ada hari yang bahkan kita sampai tidak menyadarinya, hari itu berlalu begitu saja. Kita tidak sempat menikmati, bahkan tidak sempat diam untuk sekadar menikmati segelas teh.

Satu hari begitu banyak aktivitas yang kita lakukan, mulai dari bekerja, memperbaiki taman, bermain bersama anak, bersekolah dan lainnya. Banyak hal menumpuk dan melayang di pikiran kita, bak kaset kusut yang susah dipilah. Kita semakin tidak bisa konsentrasi menjalani hari karenanya. Semakin banyak aktivitas, bahkan untuk sekadar memperbaiki kaset kusut itu pun kita tidak sempat. Apalagi untuk menenangkan pikiran dengan sekadar menikmati teh dan memilah yang ada di pikiran lagi.

Satu hari tidak ada yang bisa kita lewatkan tanpa bersosial media. Kita dengan lihai berselancar di dunia maya, mulai dari aplikasi satu hingga yang lainnya. Waktu berlalu dengan cepat saat kita sibuk chatting, update status, hingga melihat-lihat status orang. Apabila ada waktu senggang kita pasti menggunakannya untuk bercengkerama dengan HP. Tidak ada waktu yang ingin kita lewati dengan hanya diam, apalagi sambal menikmati segelas teh hangat.

Satu hari, ditemani HP dan media sosial. Tidak ada yang kita lewati tanpa pikiran untuk membagikannya kepada masyarakat dunia maya. Saat kita jalan-jalan, saat belajar, makan di tempat mahal, hangout bersama teman, semua kita bagikan di dunia maya. Bahkan saat diam sekalipun, kita tak bisa menyimpannya untuk diri sendiri. Hanya diam dan menikmati segelas teh.

Menikmati segelas teh, seorang diri, baik di dalam rumah atau di alam terbuka. Menikmati aromanya, hanyatnya dan rasanya hingga mengisi seluruh raga, jiwa. Duduk tenang sambal menikmati segelas teh, tak ada aktivitas lainnya, hanya diam. Pikiran hanya tertuju pada aktivitas menikmati teh tersebut, tak ada urusan kantor, sekolah ataupun masyarakat. Hanya ada kamu dan segelas teh hangatmu.


Tidak ada orang-orang di sosial media, tidak ada saling membenci atau mencintai, semuanya dalam kondisi netral. Yang ada hanya kamu dan segelas tehmu, kamu sedang mengisi hidupmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bagaimana aku bisa melangkah ke depan jika satu kakiku masih menapak di belakang,
Bagaimana aku bisa fokus ke depan jika satu mataku masih menatap ke belakang,
Bagaimana aku bisa meraih masa depan jika satu tanganku masih menggenggam masa lalu.
Ya, aku masih hidup di masa lalu.

Masa lalu. Begitu manis rasanya saat mengingat masa lalu. Membayangkan masa-masa indah bersama seseorang. Aku sering terbawa ke masa lalu, memikirkan saat-saat manis dalam hidupku. Aku merasa bahagia dan seperti ingin mengulanginya.

Di saat sendiri, pikiranku sering terbawa ke masa lalu. Memikirkan tentang saat indah bersamanya, saat aku mengejar cinta, saat diriku berbunga-bunga dan dunia hanya milik berdua. Seakan aku ingin selalu berada di masa itu.

Memikirkan tentang keluarga, dimana kenhangatan masih sangat terasa. Hidup satu rumah bersama, dengan saudara, orang tua. Tapi sekarang semua sudah hidup berpisah. Aku dan saudara harus pergi untuk melanjutkan pendidikan. Kelak mungkin kita harus berpisah lebih jauh, membangun keluarga sendiri-sendiri. Masa-masa kecil, bermain bersama saudara, merengek pada orang tua. Dan kenangan indah lainnya.

Tentang sekolah, teman, sahabat, orang-orang yang begitu manis padaku. Kita menikmati petualangan yang begitu indah, jalan-jalan, menginap bersama. Kenangan yang sangat indah pikirku.

Hatiku tergetar setiap aku membayangkan tentang masa lalu. Namun masa lalu tentunya tidak hanya tentang hal indah, ada pula hal buruk disana. Tentang penghianatan, kegagalan, ditinggalkan, dan lainnya. kenangan buruk itu sudah jauh terkubur dalam diriku.

Terkadang kenangan itu muncul dalam bentuk penyesalan. Iya ada banyak kesalahan yang aku buat di masa lalu, dan terkadang ingin rasanya memperbaikinya. Rasa sesal yang menghantui sungguh menyesakkan dada, menetap disana.

Pernah aku mencoba mengabaikan masa lalu, mencoba lari darinya. Setiap saat kenangan itu muncul, aku mencoba mengenyahkannya. Namun hal ini seperti menipu diri sendiri, hal itu justru membuat kenangan itu terus dan terus muncul, bahkan dengan perasaan yang semakin dalam. Dan akhirnya aku menyerah, aku kembali larut dalam kenangan.

Hingga akhirnya aku menyadari, kita memang tidak dapat mengabaikan masa lalu, pun kita juga tidak boleh terus menatap masa lalu. Kita tidak akan bisa hidup di masa depan, bahkan di masa sekarang jika kita terus memikirkan masa lalu.


Semua yang berlalu biarlah berlalu, jadikan itu sebagai kenangan dan pelajaran. Tidak apa jika suatu saat kita terbawa ke masa lalu, emosi kita terkuras dan diri melayang. Namun selalulah ingat, bahwa kita hidup di masa ini. Kita hidup sekarang. Lihatlah orang-orang dan lingkungan di sekitar kita, lihatlah diri kita. Ada begitu banyak hal yang masih dapat kita lakukan dan perjuangkan. Hiduplah kawan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Dadaku berdebar-bedar, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku, perasaanku sungguh tidak enak. Semalaman aku tidak dapat tidur karena besok akan ujian dan aku merasa belum siap menghadapinya. Hal ini membuatku tidak dapat berpikir dengan tenang. Semua yang ku pelajari tidak dapat masuk dalam otakku dan ini membuatku semakin panik lagi. Ya, aku merasa cemas.

Suatu hari aku melakukan kesalahan dan menyembunyikan kesalahan tersebut. Aku merasa takut akan dimarahi dan muncul lagi perasaan yang sama yang membuatku tidak nyaman. Lagi-lagi aku merasa cemas, takut sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. Perasaan tidak enak ini sangat menggangguku.

Kehidupan kita ini dipenuhi dengan rasa cemas. Banyak orang di berbagai tempat mengalami rasa cemas yang berbeda-beda yang membuat hidup terasa tidak damai. Kita tidak dapat tenang karenanya. Secara singkatnya cemas dapat diartikan sebuah perasaan yang muncul dari sesuatu keadaan yang tidak nyata atau belum terjadi. Beda halnya dengan rasa takut, karena hal yang ditakutkan tersebut adalah sesuatu yang nyata atau bisa dibayangkan.

Ada beberapa ciri seseorang yang mengalami rasa cemas yang kita sebut sebagai trias cemas. Yang pertama yaitu muncul perasaan cemas seperti khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit konsentrasi, dan lainnya. Gejala kedua yaitu ketegangan motorik seperti gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai, dan lainnya. Yang terakhir yaitu overaktivitas motorik, seperti kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, pusing kepala, mulut kering, dan lainnya. Gejala-gejala ini dapat menandakan seseorang dalam keadaan cemas.

Kita hidup di dalam kehidupan yang berjalan begitu cepat, sehingga terkadang kita tidak mampu menyamai kecepatan tersebut. Hal ini membuat kita frustasi dan cemas. Kita berada di kehidupan yang penuh dengan ketegangan, yang membuat perasaan cemas bisa muncul kapan saja dan pada siapa saja.

Ada anak-anak yang cemas dimarah orang tua, ada siswa yang cemas saat menjelang ujian, ada mahasiswa baru tamat yang merasa cemas karena susah mencari pekerjaan, ada pasangan suami istri baru yang cemas menjalani kehidupan keluarga, ada orang tua yang cemas menghadapi kematian, ada pemimpin yang cemas tidak dipercayai lagi oleh pengikutnya, dan banyak contoh lainnya. Rasa cemas sesungguhnya dapat dirasakan oleh setiap orang.

Perasaan cemas yang berkepanjangan ini sangat merugikan bagi kita. Kita tidak mampu berpikir dengan tenang dan hidup menjadi tidak damai. Namun, untuk mengatasi rasa cemas ini juga susah karena berasal dari dalam diri. Dan apabila kita memelihara rasa cemas ini terus akan berujung pada gangguan jiwa yang lebih parah nantinya.

Ada bebrapa hal yang dapat kita lakukan terhadap rasa cemas ini. Yang pertama yaitu mengontrolnya. Sesungguhnya semua yang keluar berasal dari pikiran kita. Apabila rasa cemas itu muncul, maka kendalikanlah agar pikiran tetap tenang. Tarik nafas panjang dan yakinlah semua hal buruk pasti akan berlalu. Berpikir positif membuat kita mampu mengontrol rasa cemas dengan lebih baik. Yang kedua yaitu mengantisipasi agar rasa cemas tersebut tidak muncul. Bila kita cemas akan ujian maka persiapkan sejak dini dengan belajar, bila kita cemas akan dimarahi maka berbuat baiklah dan akui kesalahan sendiri, dan contoh lainnya. Antisipasi merupakan salah satu kepribadian matur yang membuat kita mudah dalam melewati setiap masalah. Yang terakhir adalah pasrah. Kita serahkan pada yang Diatas dan kepada alam apa yang akan terjadi dalam hidup ini.

Memang benar kecemasan dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Namun siapa yang mau hidup terus dalam bayang-bayang kecemasan. Adalah baik untuk berlatih mengontrol diri dan mengantisipasi rasa cemas tersebut. Dengan mengatasi kecemasan maka datang kedamaian.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebagian besar orang menginginkan kedamaian dalam hidup ini. Ingin menjalani hidup yang tenang tanpa gangguan dan ingin semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Namun bagaimanapun kita merencanakan, sesuatu itu kadangkala atau seringkali malah terjadi yang sebaliknya. Hal itu membuat kita seakan terlempar jauh ke dasar jurang kehidupan dan hidup kembali tanpa kedamaian.

Salah satu tujuan hidup bisa dikatakan sebagai mencari kedamaian. Namun kedamaian bukanlah sebuah benda yang bisa ditemukan di suatu tempat dan kita bisa memilikinya untuk seterusnya. Bagi orang yang sudah menemukan caranya ya bisa saja seperti itu, namun bagi kita yang masih awam dalam kehidupan tentu akan sangat kesulitan.

Kedamaian seperti suatu yang sangat jauh dari diri kita. Sesuatu yang perlu pengorbanan dan perjuangan yang sangat keras untuk mendapatkannya. Banyak orang melakukan banyak cara untuk menemukan dan mendapatkan kedamaian tersebut.

Ada orang yang mencari kedamaian dengan bepergian ke tempat-tempat yang tenang seperti pegunungan atau pantai. Merasakan nafas alam dan turut bernafas dengannya. Menenangkan pikiran setenang air danau atau mencerahkan pikiran secerah angkasa. Semua ini berhasil pada awalnya, namun tidak bertahan lama. Setelah kembali dihadapkan dengan rutinitas yang menjemukan, kedamaian itu kembali lenyap dengan cepatnya.

Ada orang yang mencari kedamaian dengan mengikuti perkumpulan atau kelompok di bidang tertentu. Ada yang mengikuti kelompok musik, olahraga, seni dan lainnya. Kita menjadi damai saat bisa berkumpul dan tertawa dengan banyak orang. Kita damai saat menjalani aktivitas yang kita sukai bersama-sama. Namun, itu tetap saja semu. Saat kita sendiri dan merasa kesepian, kedamaian itu pergi semudah dia datang kepada kita.

Banyak orang mencari kedamaian di luar dirinya, dari suatu yang dianggap dapat mendamaikan hatinya. Makanan yang enak, tempat yang menyenangkan, teman yang asik, atau aktivitas apapun yang menarik. Kita menganggap kedamaian dicari di suatu tempat dan kita bisa membawanya pulang. Saat kita masih berpikiran seperti itu, maka kedamaian itu adalah semu dan bersifat duniawi. Kedamaian akan hilang dengan mudahnya dan kesedihan kembali menghampiri.

Orang mengatakan “kedamaian sejati muncul dari dalam diri”. Sebenarnya kedamaian yang sesungguhnya terdapat dalam diri kita. Saat kita bisa melihat kedamaian dari dalam diri, maka damailah hidup kita. Orang melakukannya misalnya dengan cara meditasi, merenung atau mendengarkan suara hati. Saat kita mampu dan sering melakukan hal tersebut, kesadaran diri akan muncul dan damailah diri kita.

Beberapa orang menerapkan hal ini dengan menyadari kehidupan, menyadari kita bernafas dan kita hidup. Meditasi merupakan salah satu caranya, yang membantu kita menjadi pribadi yang lebih tenang dan damai dalam menjalani kehidupan. Namun tentu memerlukan waktu dan usaha agar kita mampu mencapai titik tersebut dan hidup dengan damai.


Sama seperti hal yang selalu berubah-ubah, kedamaian itu juga tidak abadi. Kita harus bisa mempertahankan agar diri tetap damai. Salah satunya dengan menyadari bahwa kehidupan memang terdiri dari kejadian baik buruk yang silih berganti dan memang demikian. Saat kejadian buruk menghampiri kita akan tetap damai karena menyadari bahwa hal tersebut merupakan sebuah siklus kehidupan. Saat kejadian baik menghampiri, sudah seharusnya juga kita bersyukur akan karunia tersebut, sehingga hidup senantiasa dalam damai. Hidup dalam damai adalah sebuah jalan kehidupan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pernahkah kamu merasa hidupmu begitu pengap? Rutinitas yang kamu jalani membawamu dalam arus yang membuatmu jarang untuk berpikir, merenung, berkontemplasi. Kamu hidup seakan hanya untuk menjalani hari, hanya supaya hari berlalu dan kamu bisa menjalani hari berikut. Dan begitulah seterusnya.

Kita menjalani hidup begitu cepatnya. Satu persatu hal berlalu begitu saja, tanpa ada jeda. Bahkan membuat kita jarang berpikir, kehidupan seperti inikah yang benar-benar aku inginkan? Kenapa aku berada di titik ini? Karena terlalu sibuk menjalani rutinitas, kita bahkan enggan untuk memikirkan hal mendasar seperti itu. Kita hanya mengalir mengikuti arus kehidupan, arus tekanan lingkungan. Dan tak peduli walau harus tersesat pada akhirnya.

Ada kala di satu titik kehidupan kita memberikan sebuah istirahat, sebuah jeda untuk merenungkan semua yang telah kita jalani. Memikirkan kembali, memberi ruang kepada diri untuk berbincang dengan hati. Menjauh dari semua hiruk pikuk kehidupan, menjauh dari rutinitas dan orang-orang di sekitar kita. Lalu bertanya pada diri, “Kehidupan seperti apakah yang aku inginkan?”

Berpikir tentang “esensi dari eksistensi”. Kenapa kita terlahir di dunia ini.

Berbagai ajaran ataupun pemikiran menyampaikan tentang apa tujuan dari hidup ini. Ada yang menyampaikan hidup untuk menebus dosa, hidup untuk memperoleh pengampunan, hidup untuk melakukan pelayanan, hidup untuk mencapai kebebasan, serta pemikiran lainnya. Ada tujuan hidup yang didasarkan pada ajaran agama dan ada pula yang berasal dari pemikiran kritis seorang pemikir. Hingga saat ini, tidak ada yang tau pasti tentang tujuan kehidupan ini. Setiap orang memiliki dasar keyakinannya masing-masing dan menjalani hal tersebut.

Terlepas dari setiap perbedaan pemikiran ini, ada beberapa hal yang kita sepakati bersama sebagai bagaimana menjalani kehidupan. Kita hidup untuk mencapai kebahagiaan. Lalu apakah kebahagiaan itu? Maksudku kebahagiaan yang sesungguhnya. Mulailah orang-orang mencari definisi tentang “kebahagiaan”. Kita mulai mencari kegiatan, tempat, orang yang dapat membuat kita bahagia.

Begitulah seterusnya, ada berbagai pertanyaan tentang kehidupan yang mungkin sampai akhir tidak kita ketahui jawaban pastinya. Namun jangan hal ini membuat kita berhenti bertanya dan berhenti merenung memikirkan kehidupan kita.

Bagaimana kita mendefinisikan tujuan hidup kita menentukan apa yang akan kita lakukan dalam hidup ini. jawaban setiap orang adalah berbeda-beda. Mungkin saja tujuan dari hidup ini adalah menjawab pertanyaan “apa tujuan dari hidup ini”.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Saya Wirga Wirgunatha, hanya seorang manusia yang ingin membagikan pemikiran melalui sebuah tulisan. Memiliki ketertarikan terhadap alam dan kehidupan.

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Blog Archive

  • September 2019 (2)
  • Agustus 2019 (9)
  • Mei 2019 (4)
  • April 2019 (15)
  • Maret 2019 (28)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • November 2018 (6)
  • Agustus 2018 (1)
  • Juli 2018 (1)
  • Mei 2017 (1)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (4)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (1)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (5)
  • Januari 2016 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Label Cloud

  • Artikel
  • Buku
  • Cerpen
  • Coretan
  • Puisi

Popular Posts

  • Road
    Aku menikmati saat mengendarai kendaraan di jalanan, merenung tentang hal-hal yang ada di kehidupan. Berjalan pelan meresapi setiap ...
  • The Phase
    “ The culture we have does not make people feel good about themselves ” ~Mitch Albom Sering aku mendengar tentang setiap orang memil...
  • When You’re Alone
    Hidup terdiri atas serangkaian kejadian baik buruk yang terjadi seiring berjalannya waktu. Ada kala kita merasa sangat bahagia dengan keh...
  • Magnet
    Kita menarik orang yang memiliki kesamaan seperti kita di dalam hidup ini. Tanpa disadari, kita akan mencari teman yang memiliki kesamaan ...
  • Storm
    "And once the storm is over,you won't remember how you made it through, how you managed to survive. You won't even be sure ...

Quotes

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates