• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Wirga Wirgunatha

Carpe Diem


Sungguh aku merasa terlambat karena baru sekarang membaca sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal yaitu “Sitti Nurbaya”. Sebuah kisah yang sudah berusia puluhan tahun namun tak pernah lekang termakan usia dan ditulis oleh seorang yang sangat hebat. Buku ini ku dapatkan dari sebuah toko buku kecil yang ada di kotaku. Toko buku yang kata pemiliknya hanya bertahan dengan buku-buku yang masih tersisa karena minat orang terhadap buku sudah sangat kurang pada masa sekarang ini.

Dari buku ini aku mengenal sosok Samsul Bahri dan Sitti Nurbaya yang memiliki cinta yang sangat dalam namun tak mampu menemui akhir bahagia. Semua mimpi dan harapan yang mereka bayangkan hancur berantakan hingga tak tersisa oleh seorang manusia tua penuh iri dan dengki bernama Datuk Maringgih. Latar adat dan budaya Minang yang penuh dengan aturan serta kondisi Indonesia yang sedang dijajah oleh Belanda terasa sangat kental di dalam kisah ini. Berbagai aturan adat Padang seperti budaya perkawinan yang dijodohkan, kaum perempuan yang memilii tanggung jawab besar dalam keluarganya, kaum laki-laki yang bebas boleh menikah berkali-kali dan sering kali tidak semena-mena terhadap perempuan dan budaya lainnya. Ada tokoh yang menentang beragam budaya yang tidak adil tersebut namun lebih banyak yang mengamini semua tindak diskriminasi tersebut. Mereka menganggap bahwa kaum lelaki jauh lebih berkuasa ketimbang perempuan.

Awal kisah menceritakan seorang lelaki bernama Samsul Bahri yang merupakan anak seorang penghulu terkenal bernama Tengku Mahfud dan seorang perempuan bernama Sitti Nurbaya yang merupakan anak saudagar yang baik dan kaya raya bernama Sulaiman. Mereka sudah berteman sejak kecil dan hingga dewasa mereka menjadi sepasang kekasih. Di malam menjelang kepergian Samsul Bahri menuju Jakarta untuk belajar di sekolah dokter mereka berjanji akan saling mencintai hingga akhir hayat dan akan menikah suatu saat nanti. Mereka membayangkan saat-saat yang indah suatu saat jika Samsul sudah pulang dan mereka bisa bersama lagi.

Konflik dan bencana dimulai saat kehadiran Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya raya yang terkenal dengan sifat iri, dengki, dan sombongnya ini. Bahkan sepeserpun tidak akan dia berikan hartanya kepada orang lain. Dia tidak suka saat ada orang lain yang menyaingi bisnisnya termasuk Baginda Sulaiman. Karena itu mulailah dia menggunakan cara kotor untuk menghancurkan bisnis Sulaiman. Dia menyuruh pedagang untuk tidak lagi belanja disana, membakar kapal-kapal barang, merusak lahan pertanian, dan lainnya. Semua cara dia lakukan hingga keluarga Sualiman bangkrut dan dia tidak memiliki apapun. Lalu Datuk datang dengan manis untuk menawarkan pinjaman kepada Sulaiman. Setelah Sulaiman tidak mampu membayar utang tersebut, Datuk meminta anaknya untuk dijadikan istri atau Sulaiman harus dipenjara. Sitti yang tidak tega melihat ayahnya menderita lalu merelakan dirinya dinikahi oleh Datuk Maringgih. Berita ini diketahui Samsul Bahri di rantauan dan sungguhlah sedih hatinya saat mendengarnya.

Penderitaan dua pasangan ini tidak berakhir sampai di sini. Saat lebaran Samsul Bahri pulang ke kampung halamannya. Di sana dia melihat kekasihnya tercinta saat sedang merawat ayahnya yang sakit-sakitan karena menanggung penderitaan. Di sana mereka sempat berbincang seperti dahulu, berharap tentang hari-hari indah yang akan menanti suatu saat nanti. Tentang masa dimana mereka akan bertemu dengan kebahagiaaan. Namun sekali lagi, harapan itu pupus karena ternyata Datuk Maringgih mengintip kebersamaan mereka. Mengamuklah Datuk dan meminta agar Samsul diadili. Suasana gaduh, Sulaiman yang terkejut saat melangkah keluar terjatuh dan langsung meninggal. Nasib Samsul dia diusir oleh ayahnya yang tidak mau menanggung malu dan nama baiknya hancur. jadilah Samsul diusir pergi seorang diri ke Jakarta lagi.

Cerita berlanjut memperlihatkan Sitti yang menanggung kesedihan yang begitu dalam. Lalu dia menyusul sang kekasih hingga ke Jakarta dengan begitu banyak rintangan. Sebelum berlama mereka berdua di Jakarta, Datuk mengetahui berita itu dan menuduh Sitti ke petugas bahwa Sitti melarikan hartanya ke Jakarta dan meminta dia dibawa pulang. Tidak bisa berbuat apa, Sitti kembali pulang dengan tangan hampa. Dan tragisnya saat teah berada di kampung halaman, dia diracun oleh anak buah Datuk hingga meninggal. Entah karena apa mungkin kesedihan yang begitu dalam Ibu Samsul juga meninggalkan dunia ini. Berita ini terdengar sampai ke telinga Samsul di rantauan. Sungguh tak ada lagi alasan untuk hidup lagi dalam hidupnya. Dua perempuan yang menjadi alasan dia hidup telah tiada. Tak ada keinginan lagi bagi Samsul untuk hidup dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kelanjutan cerita ternyata Samsul masih hidup dan dia bergabung dengan tentara Belanda. Berulang kali dia mencoba mati di peperangan namun keajaiban yang dia dapat. Dia terus menang hingga menjadi seorang letnan. Dan satu hari dia ditugaskan bersama pasukannya untuk melawan pemberontak di Kota Padang yang membangkang pada pemerintah Belanda. Di sana dia bertemu pimpinan mereka yang tiada lain adalah Datuk Maringgih. Dia mengakui identitasnya yang sebenarnya Samsul Bahri dan membalaskan dendamnya pada Datuk. Akhirnya dia bisa membalas semua tindak keji pada orang yang membuat semua kehancuran hidupnya. Namun nahas, Samsul juga terluka cukup parah dan di menjelang akhir hidupnya dia bertemu dengan ayahnya dan mengucapkan permohonan maafnya.

Begitulah akhir cerita ini, sebuah kisah kasih tak sampai. Bahwa setiap pasangan bisa berharap dan semua kembali pada takdir. Terkadang banyak harapan yang tak bisa terwujudkan, namun tak ada kisah yang sesedih kisah ini. Selain itu, kisah ini juga berisikan banyak pantun dan nasehat-nasehat yang dibalut dalam adat yang begitu kental. Nasehat tentang kehidupan yang sudah jarang kita temukan pada masa sekarang ini. Di sini aku juga menyadari bahwa di masa lalu pernah kita menganut adat yang seperti ini. Bahwa budaya kita begtu banyak dan beragam. Selamat membaca kisah yang menggetarkan jiwa dan membawa kita ke masa lalu ini.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati”, kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir.

Cerita ini berawal dari dua orang teman karib bernama Si Tokek dan Ajo Kawir. Layaknya remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu apalagi tentang sesuatu yang berbau seksualitas membawa mereka menyaksikan sebuah aksi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua orang polisi pada seorang perempuan yang tidak waras semenjak ditinggal mati oleh suaminya. Ajo Kawir yang ketahuan mengintip saat itu dipaksa untuk membuka celana di depan si perempuan dan entah karena hal apa kemaluan Ajo Kawir tidak mau bangun lagi semenjak hari itu.

Kemaluan yang tidak mau bangun lagi menjadi sebuah bencana bagi hidup Ajo Kawir. Dia telah mencoba berbagai cara untuk membangunkan burungnya itu seperti dengan melihat gambar porno, mengoleskan potongan cabai rawit, bahkan satu malam Ayah Si Tokek pernah membawa Ajo Kawir ke sebuah tempat “jajan”, namun perempuan disana juga menyerah melihat “kontol” Ajo Kawir yang tidak bisa bangun tersebut.

Perjalanan hidup Ajo Kawir selanjutnya mempertemukan dirinya dengan seorang gadis petarung bernama Iteung. Mereka berkelahi saat Ajo Kawir ingin membunuh bos dari Iteung yang telah membuat hancur kehidupan banyak orang. Karena perkelahian yang hebat itu tanpa disadari mereka menjadi begitu dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih. Namun muncul ketakutan dalam diri Ajo Kawir. Ajo Kawir memberi tahu Si Tokek bahwa ia tak mungkin menjadi kekasih Iteung atau kekasih perempuan manapun karena ia tak mungkin bisa memberikan apa yang mereka butuhkan. Sejak saat itu Ajo Kawir memilih menjauhi Iteung dan mereka berpisah tanpa penjelasan.

Dilanda oleh perasaan frustasi yang begitu dalam membuat perasaan yang menggebu-gebu muncul dari dalam diri Ajo Kawir dan dia rasanya ingin memukul dan berkelahi dengan seseorang. Di saat seperti itu muncul Paman Gembul yang memintanya untuk membunuh seorang musuh lama bernama Si Macan. Ajo Kawir lalu mempersiapkan diri dan menantang dengan terbuka Si Macan yang seorang preman senior tersebut.

Waktu berlalu akhirnya Ajo Kawir memberanikan diri untuk bertemu lagi dengan Iteung. Perempuan yang telah begitu dikecewakan hatinya itu memutuskan untuk tetap bersama dengan Ajo Kawir walaupun telah mengetahui kondisi Ajo Kawir yang sesungguhnya. “Apa yang akan kau lakukan dengan lelaki yang tak bias ngaceng?”, tanya Ajo Kawir. “Aku akan menikahinya”, jawab Iteung.

Pada akhirnya Ajo Kawir menikah dengan Iteung namun sekali lagi ia harus kecewa saat melihat ternyata Iteung telah hamil lebih dahulu oleh seorang temannya sewaktu di perguruan. Hal itu membuat geram Ajo Kawir dan akhirnya ia melampiaskannya ke Si Macam dan itu membuatnya harus di penjara. Dan di saat ia bebas ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta bekerja sebagai supir truk. Di Jakarta ia pikir akan menemukan kedamaian. Di sana dia dipertemukan dengan seorang anak muda bernama Mono Ompong yang menjadi kernetnya yang juga menyimpan ambisi begitu besar pada perempuan di kampung halamannya. Mereka berdua melewati banyak hal di perjalanan, termasuk konflik dengan seorang supir truk lain bernama Si Kumbang dan harus berakhir di ring pertarungan.

Semenjak pergi ke Jakarta, Ajo Kawir sudah menyerah dengan kondisinya dan dia memilih untuk menaati kemauan burungnya yang memilih jalan damai. Dia mengendarai truk sambil memperhatikan foto anak perempuan Iteung yang terus dikirimkan oleh Si Tokek kepadanya. Sementara itu, Iteung masuk penjara setelah membunuh Budi Baik yang tidak lain lelaki yang menghamilinya. Diceritakan juga di perjalanan Ajo Kawir sempat bertemu dengan seorang perempuan bernama Jelita yang mengingatkannya pada perempuan nona merah.

Di akhir kisah ini, saat Ajo Kawir pulang untuk menemui anak dan istrinya yang telah dibebaskan dari penjara, saat itu istrinya pergi untuk membunuh dua orang polisi yang menyebabkan penderitaan Ajo Kawir. Saat itulah, di rumahnya tanpa disadari kemaluan Ajo Kawir bisa bangun lagi, walaupun untuk itu Iteung harus dipenjara lagi.

Setelah membaca buku ini, dapat dilihat tokoh-tokoh dengan semua ketidakwarasannya yang mencerminkan ketidakwarasan jamannya. Dan di tengah kehidupan yang keras dan brutal ini, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Aku menulis ini setelah menghadiri acara peluncuran buku kembar buncing “Men Coblong” dan “Koplak” karya Oka Rusmini. Seorang penulis berasal dari Bali yang telah melahirkan banyak buku dan mendapatkan berbagai penghargaan. Di acara tersebut aku mendengarkan tentang bagaimana dua buah karya ini tercipta oleh Oka Rusmini, dari dua narasumber yang membedah dengan dalam kedua isi buku tersebut.

Di buku “Men Coblong” diceritakan tentang kumpulan kegelisahan seorang ibu yang hidup di Bali pada masa sekarang, dengan berbagai perkembangan yang begitu pesat dan menimbulkan banyak permasalahan. Banyak realita kehidupan dan perkembangan itu yang menimbulkan dampak bagi manusia yang hidup di era kemajuan ini. Beberapa hal yang mengusik ketenangan seorang ibu seperti rasa pesimis terhadap negara dan pemerintah yang bukannya mensejahterakan warganya justru memberikan banyak aturan yang berbelit-belit. Juga tentang “esensi menjadi manusia modern itu ditunjukkan dengan eksis di media sosial”, dan tentang korupsi yang tidak pernah habis di negeri ini.

Buku “Men Coblong” merupakan sebuah fiksi karena karakter yang ditulis disana tidak nyata, walaupun sebenarnya menggambarkan seorang Oka Rusmini tersebut. Di buku ini terdapat beberapa esai yang membahas tentang bagaimana kehidupan dan kegelisahan sehari-hari dari Men Coblong.

Buku kedua yang berjudul “Koplak” menceritakan tentang seorang kepala desa yang sudah ditinggal oleh istrinya yang tidak merasa nyaman lagi melihat realita dunia sekarang ini, dimana orang-orang berlomba-lomba mencari jabatan demi uang dan kekuasaan. Dia merindukan suasana desa seperti dahulu yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian tanpa banyak terusik dengan kenyataan dunia luar. Dia memiliki seorang putri bernama Ni Luh Putu Kemitir yang memiliki usaha makanan di kota. Namun karena kesenjangan yang begitu lebar antara dia yang masih terkesan kuno dengan anaknya yang telah mengenal dunia modern membuat banyak permasalahan dan kegelisahan muncul dalam diri Koplak.

Seiring berjalannya waktu, Koplak kembali bersaing memperebutkan posisi kepala desa dengan dua orang calon lainnya. Yang satu merupakan anak muda dengan pekerjaan yang sukses dan yang kedua seorang pria yang memiliki keahlian berbicara dan meyakinkan banyak orang-orang. Terheran-heran Koplak saat memikirkan bagaimana mungkin dua orang yang tidak pernah diam di desa tersebut mungkin bisa memimpin desanya. Sungguh kekuasaan dan uang mampu menggoda banyak orang untuk mendapatkannya.

Koplak melihat dunia sekarang penuh dengan kebohongan dan manipulasi. Banyak orang memalsukan diri hanya demi terlihat baik di mata orang lain. Menurut dia hidup itu sederhana, hidup di desa asal bisa makan saja sudah cukup. Tidak seperti orang sekarang yang mesti memiliki ini itu untuk dapat bahagia. Begitu juga dengan penampilan, sampai sekarang Koplak tidak masalah terlihat seperti orang kuno, dari pada memoles diri sedemikian rupa agar terlihat tampan. Koplak menjadi gambaran orang yang lurus, polos, bertolakbelakang dengan karakter orang jaman sekarang ini.

Setelah membaca kedua buku ini, aku tidak hanya terkesan denga isi bukunya, tapi juga dengan sosok Oka Rusmini. Beliau yang telah menulis sejak di bangku sekolah hingga menjadi seorang penulis dengan segudang prestasi seperti sekarang ini. Dan tips untuk menjadi seorang penulis ialah menulislah. Menulis saja dulu lalu dipikirkan isinya belakangan. Untuk menambah wawasan dalam menulis kita juga mesti banyak membaca. Salam literasi.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Buku ini menceritakan tentang hari-hari yang dijalani Mitch Albom bersama profesornya dulu yang bernama Morrie yang tengah menjalani hari-hari menjelang kematiannya karena mengalami penyakit saraf yaitu ALS. Di buku ini dilukiskan dengan begitu indah bagaimana seorang yang menjelang tutup usianya membagikan tentang makna kehidupan dan nilai-nilai yang harus kita miliki dalam hidup.

Setelah terpisah selama sekian tahun semenjak kelulusannya, Mitch tidak pernah bertemu lagi dengan dosen kesayangannya tersebut hingga suatu hari saat dia melihat profesornya di layar TV sedang menceritakan kondisi penyakitnya yang mengenaskan. Saat itu Mitch bekerja sebagai jurnalis yang kaya, kondisi hidup yang penuh ambisi namun tak bahagia. Hal itu membuat Mitch ingin bertemu kembali dengan profesornya dan untuk menunaikan janjinya bertemu dahulu. Morrie menyambutnya dengan hangat dan bersemangat, seperti yang dia lakukan sejak dahulu walaupun mereka sudah tidak bertemu selama bertahan-tahun. Dan mereka berbincang tentang kehidupan dan kematian setiap minggu tepatnya hari selasa dan itu seperti tugas terakhir yang sedang mereka selesaikan. Temanya yaitu tentang "Makna Hidup" dan walaupun tidak ada ujian akhir, namun ia diminta untuk menuliskan setiap kisah yang ia terima dalam sebuah buku ini.

Di buku ini Morrie menyampaikan tentang begitu banyak orang yang menjalani hidup tanpa makna. Mereka seperti setengah sadar di saat mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya tidaklah penting. Hal ini karena kita mengejar sesuatu yang salah. Cara agar kita mendapatkan makna hidup yaitu dengan mengerahkan diri untuk mencintai orang lain, mengerahkan diri untuk lingkungan di sekitar kita dan mengerahkan diri untuk membuat sesuatu yang memberi kita tujuan dan makna dalam kehidupan.

Setiap hari selasa mereka berbincang tentang banyak hal, seiring dengan kondisi kesehatan Morrie yang semakin memburuk. Di awal mereka berbicara tentang dunia secara keseluruhan. Semenjak sakit Morrie merasa semakin peduli terhadap dunia dan bahwa dia adalah bagian dari semesta ini. Dia merasa bahwa kesulitan orang lain adalah kesulitan dia juga. Morrie juga membahas tentang kematian, dimana dia menganggap bahwa di budaya sekarang kita terlalu takut dengan kematian padahal itu ialah bagian dari kehidupan. Kita harus bisa merangkul kematian dengan begitu kita bisa tulus menjalani kehidupan, "once you learn how to die, you learn how to live".

Begitu juga mereka membicarakan tentang banyak aspek lain dari kehidupan seperti tentang bagaimana kita sering merasa bersalah terhadap diri sendiri, tentang rasa penyesalan, keluarga, emosi, pernikahan, rasa takut terhadap penuaan, dan bagaimana memaafkan. Dalam salah satu pembahasannya, Morrie menyampaikan bahwa materi, uang, atau nama besar tidak bisa dibandingkan dengan orang yang kita sayangi. Mengetahui bahwa ada orang lain yang menyayangi kita jauh lebih penting dari semua hal materi tersebut. Oleh karena itu, dari pada fokus pada materi atau jabatan, kita harus lebih berfokus pada cinta, keluarga dan kasih sayang. Seperti kutipan yang ia sampaikan, "love someone or perish".

Akhir buku ini ialah bagaimana Morrie akhirnya menemui kematiannya namun ia sudah benar-benar siap dengan hal tersebut. Banyak hal yang di dapatkan Mitch dari gurunya tersebut yang membuat ia jadi percaya bahwa tidak ada hal yang terlambat dalam hidup ini dan kita harus menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin serta berguna bagi orang lain.

"A teacher affects eternity, he can never tell where his influence stop".

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

“Mereka yang ingin belajar tak bisa diusir”

Saat membaca bagian depan buku ini yang dipersembahkan untuk seorang anak miskin yang cerdas yang gagal masuk fakultas kedokteran, saya mengira buku ini akan mengisahkan banyak tentang anak tersebut dan seputar perjuangannya. Namun setelah membaca dan meresapi seluruhnya, buku ini berkisah jauh tentang hal itu, namun mencakup tentang manusia dan kehidupan ini. Tentang perjuangan hidup dan bagaimana tingkah polah manusia dalam dunia ini.

Setiap novel karya “Andrea Hirata” selalu indah dan memiliki pesan mendalam bagi setiap pembacanya, begitu pula dengan “Orang-orang Biasa” ini. Di sini menceritakan tentang sepuluh sekawan yang berteman sejak SD namun memiliki nasib yang kurang beruntung. Sejak kecil mereka selalu hidup di garis kemiskinan dan mesti berjuang susah payah untuk melanjutkan hidup. Ada yang semasa tua bekerja sebagai pedagang kaki lima, supir, penjual buku, guru honorer, buruh di pelabuhan, dan lainnya. Namun, mereka memiliki hati yang tulus untuk membantu sesama dan mereka jujur dalam menjalankan pekerjaannya.

Dikisahkan juga tentang inspektur polisi bersama sersannya yang menjaga keamanan Kota Belantik dengan sangat tegas. Melalui pengisahan yang klasik, di ceritakan mereka sebagai sosok polisi yang tidak bisa di suap bagaimanapun caranya, serta memiliki etos kerja yang tinggi baik itu pagi siang dan malam. Serta ada juga beberapa orang jahat yang sudah berperilaku buruk semenjak SD hingga dewasa. Dengan kejahatan itu mereka bisa menghasilkan uang dengan cara-cara yang tidak benar, seperti memanfaatkan kekuasaan di pelabuhan dan melakukan praktik pencucian uang di toko batu mulia.

Konflik berawal saat anak dari salah seorang dari sepuluh sekawan yang bernama Aini, yang dengan berbagai usaha kerasnya berhasil menembus sekolah kedokteran. Namun karena kondisi ibunya yang sangat miskin, dia tak mampu membayar biaya sekolah tersebut. Mendengar hal itu, sembilan orang temannya ingin membantu kesulitannya tersebut dan akhirnya mereka merencanakan untuk merampok sebuah bank.

Banyak hal berlalu, akhirnya dengan kepandaian dari salah seorang temannya tersebut, mereka berhasil merampok uang miliaran dari hasil cuci uang toko batu mulia milik teman SD mereka dulu. Namun kembali lagi, karena ketulusan hati mereka, mereka tak menggunakan uang haram tersebut dan memilih untuk meminjam dari berbagai tempat. Cerita diakhiri dengan tertangkapnya para penjahat oleh inspektur polisi dengan bantuan dari orang-orang biasa ini.

Dari kisah ini, memang terkadang ada banyak hal tak adil dalam hidup ini, tentang bagaimana orang miskin semakin susah dan orang kaya semakin serakah. Namun tentu harta bukan satu-satunya hal yang penting dalam hidup ini. Kita diajarkan tentang ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan semua hal baik yang ada di dunia. Karena dengan hal tersebut, waktu terkadang akan menunjukkan jalannya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

"He who has a why to live can bear with almost any how." ~ Nietzsche

Sebuah buku tentang pencarian makna hidup ini ditulis oleh seorang dokter yang pernah mengalami masa-masa kritis saat berada di kamp pengasingan Nazi. Dalam kisahnya, Victor Frankl memanfaatkan pengalamannya selama bekerja untuk mengembangkan metode logoterapi. Di sana ia menemukan bahwa keinginan untuk menemukan makna hidup sangat penting bagi kehidupan seseorang.

Bagian pertama buku ini menceritakan pengalaman pribadi Frankl terhadap “Holocaust”. Dia menyadari bahwa sesuatu yang dia lihat dan alami di kamp pengasingan itu sangat menguras seluruh yang ada pada dirinya sehingga yang tersisa hanya penderitaan dan kehampaan. Namun dia juga menyadari bahwa walaupun di dalam penderitaan yang dalam sekalipun setiap orang masih dapat mencari makna dalam hidup.

Bagian kedua buku ini memperkenalkan tentang teori logoterapi yang ditemukan oleh Frankl. Teori ini menyatakan bahwa keinginan untuk mencari makna hidup adalah lebih fundamental bagi manusia daripada keinginan untuk kebahagiaan atau kekuasaan. Dan adalah tujuan dasar setiap manusia untuk menemukan makna dalam setiap kehidupan mereka.

Ketika ia berada di kamp pengasingan, Frankl melihat bahwa segala sesuatu dapat diambil dari manusia, baik itu kekayaan, keluarga hingga kepercayaan. Namun ada satu hal yang tidak bisa diambil yaitu keinginan seseorang untuk bersikap terhadap hidupnya. Apakah orang tersebut akan menyerah terhadap keadaan atau memilih tetap bertahan, itu semua tergantung dari orang tersebut.

Sebagian besar tahanan yang selamat dari kamp pengasingan adalah mereka yang memiliki tujuan atau makna lebih besar yang mereka perjuangkan: seperti misalnya bertemu dengan orang yang dicintai atau menyelesaikan buku yang setengah tertulis. Adanya makna hidup yang selalu dipegang teguh ini membuat orang tersebut mampu bertahan bahkan saat melihat satu-satunya ujung ialah kematian.

Makna hidup dapat dicari dari berbagai hal. Makna itu unik dan spesifik bagi setiap individu yang harus dan hanya bisa ditentukan oleh orang itu sendiri. Frankl melihat terdapat tiga sumber yang bisa dijadikan sebagai makna hidup yaitu dalam pekerjaan (melakukan sesuatu yang signifikan), dalam cinta (merawat orang lain), dan dalam keberanian selama masa-masa sulit (penderitaan). Frankl menyimpulkan dari pengalaman yang ia alami bahwa tujuan hidup, yang benar-benar membuatnya layak untuk dijalani adalah mencari makna.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Saya Wirga Wirgunatha, hanya seorang manusia yang ingin membagikan pemikiran melalui sebuah tulisan. Memiliki ketertarikan terhadap alam dan kehidupan.

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Blog Archive

  • September 2019 (2)
  • Agustus 2019 (9)
  • Mei 2019 (4)
  • April 2019 (15)
  • Maret 2019 (28)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • November 2018 (6)
  • Agustus 2018 (1)
  • Juli 2018 (1)
  • Mei 2017 (1)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (4)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (1)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (5)
  • Januari 2016 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Label Cloud

  • Artikel
  • Buku
  • Cerpen
  • Coretan
  • Puisi

Popular Posts

  • Melankoli
    Aku begitu melankoli hari ini. Aku memandang kehidupan sebagai sesuatu yang entahlah, akupun tak mampu mendeskripsikannya. Mungkin kad...
  • Suffering
    Pikiranku melayang menembus waktu menuju tanggal delapan januari tahun lalu, saat aku terhampar di kasur, menangis, marah, kecewa, sedih, ...
  • Buku - Orang-orang Biasa
    “Mereka yang ingin belajar tak bisa diusir” Saat membaca bagian depan buku ini yang dipersembahkan untuk seorang anak miskin yang ce...
  • Puisi - Tentang Kisah
    Jangan mendekat nanti kau jatuh terlalu dalam Cegahlah sebelum pilihannya hanya mengalah Aku takut tangan ini tak mampu menggen...
  • To Run is To Keep Moving Forward
    Hidup yang sehat sudah menjadi pola keseharian bagi orang- orang pada masa sekarang ini. Selain dengan mengkonsumsi makanan yang sehat...

Quotes

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates